Indeks Harga Saham Gabungan Tertopang




Indeks harga saham gabungan diyakini walau saat ini masih dibayangi isu negatif kondisi ekonomi global masih berpotensi menanjak hingga akhir tahun. Kondisi negatif pasar global memang masih bisa melemahkan IHSG, namun penurunan ini tidak signifikan karena kinerja sejumlah emiten BEI yang menunjukkan angka positif mampu menahan melemahnya IHSG.

PT.Telkom Misalnya, mencetak pertumbuhan laba bersih menjadi Rp.10 trilliun. Analisis berpendapat bahwa para investor masih menunggu laporan kinerja perusahaan besar seperti Grup Astra, bank Bca dan Bank Mandiri. Termasuk juga perusahaan konsumer goods macam Kalbe Farma, Indofood Sukses Makmur. Jika laporan kinerja perusahaan positif, maka Indeks Harga Saham Gabungan akan naik secara signifikan.

Sementara ini terkait kondisi ekonomi global yang masih lesu, emiten sektor tambang tidak lagi menjadi saham unggulan. Investor diperkirakan sudah mengantisipasi laporan keuangan kuartal ketiga dan tahu bahwa saham sektor perbankan dan konsumer goods akan bagus.

Ditengah kondisi pasar regional yang lesu, karena mayoritas emiten mengalami penurunan kinerja, pasar kini berharap pada perkembangan ekonomi eropa dan menimbang resiko akibat pemilu di Amerika Serikat bulan depan.